J.A Latumeten:Penjaga Kewarasan Yang Menolak Tunduk
Penulis: Indira Galuh
Editor: Cindy Marsitaully

Den Haag, Februari 1924. Di hadapan Indisch Genootschap, seorang psikiater kolonial berdiri menyampaikan sebuah teori.
Ia bukan orang sembarangan. F.H. van Loon adalah direktur klinik psikiatri Grogol di Batavia, dosen psikiatri dan neurologi di STOVIA, seorang ilmuwan yang terbiasa tidak digugat. Dan malam itu, berbekal seluruh otoritasnya, ia menyampaikan sebuah kesimpulan: amok — kekerasan tiba-tiba yang kadang muncul di antara penduduk Melayu — bukanlah gangguan individual. Bukan produk kemiskinan. Bukan tekanan kolonial yang bertahun-tahun menghimpit. Melainkan manifestasi dari regresi ras. Sifat bawaan yang ditentukan oleh darah, bukan oleh sejarah.
Tidak ada satu orang pun dari komunitas yang baru saja ia katalogkan menjawab tuduhan itu.
Kecuali satu. Dan ia menjawab bukan dengan kemarahan. Ia menjawab dengan sains — sains yang persis sama dengan yang digunakan Van Loon untuk menyerangnya.
Dari Ambon Ke Utrecht.
Tidak banyak yang kita tahu tentang masa kecil Johannes Alexander Latumeten. Tapi ada satu hal yang cukup untuk memahami dari mana keberaniannya berasal: ia adalah seorang dokter Ambon yang memilih jalan yang paling sulit.
Saat Van Loon berpidato di Den Haag, Latumeten sedang berada di Utrecht — bukan sebagai penonton dunia Eropa, melainkan sebagai bagian dari dunia itu. Ia tengah menyelesaikan disertasi doktoralnya di Universiteit Utrecht, sebuah penelitian tentang inti-inti saraf okulomotor yang kelak diterbitkan dengan judul Over de Kernen van den Nervus Oculomotorius (Utrecht: Den Boer, 1924). Penelitian neurologis yang serius, metodis, dan tanpa kompromi.
Inilah yang perlu dipahami tentang posisi Latumeten: ketika Van Loon mengklaim bahwa otak penduduk Melayu secara evolusioner lebih rendah — lebih “protopathic,” lebih instingtif, lebih tidak terkendali — Latumeten sedang berada di laboratorium neurologi Utrecht, memetakan anatomi sistem saraf dengan presisi yang tidak kalah dari siapa pun di Eropa.
Dua kenyataan itu tidak bisa hidup berdampingan. Dan Latumeten tahu itu.
Kerangka yang Van Loon Gunakan — dan Lubangnya
Untuk memahami mengapa bantahan Latumeten begitu signifikan, kita perlu memahami terlebih dahulu apa sebenarnya yang sedang dibangun Van Loon.
Dalam pidatonya, “De Psychische Eigenschappen der Maleische Rassen,” Van Loon meminjam konsep protopathic-instinctive phenomena dari ahli neurologi Inggris Henry Head. Head awalnya menggunakan istilah ini untuk mendeskripsikan respons sensorik primitif pada pasien dengan kerusakan saraf tertentu — bukan untuk mengklasifikasikan ras. Van Loon mengambil konsep itu, merekatkannya pada identitas rasial, dan menggunakannya untuk menyatakan bahwa amok dan latah adalah bukti bahwa penduduk Melayu secara filogenetik —suatu ilmu yang mengklasifikasi makhluk hidup berdasarkan sejarah evolusinya— belum berkembang sejauh orang Eropa. (Van Loon, F.H. 1924)
Logikanya berlapis. Terdengar ilmiah. Dan itulah bahayanya.
Van Loon berpartisipasi dalam sebuah proyek global — psikiatri kolonial yang saat itu tengah mengkatalogkan perilaku masyarakat non-Eropa sebagai konfirmasi hierarki evolusioner. Imu pada Ainu di Jepang. Windigo pada Ojibwa dan Cree di Kanada. Piblokto pada Inuit Arktik. Setiap komunitas punya “sindromnya” masing-masing, dan setiap sindrom dibaca sebagai bukti keterbelakangan. Tapi tidak ada satu pun sindrom dari masyarakat Eropa yang diperlakukan dengan logika yang sama. Standar gandanya berjalan konsisten — dan tidak ada yang mengangkat tangannya untuk menunjukkan bahwa standar ganda itu ada.
Tidak ada — sampai Latumeten.
Verweerschrift: Ketika Yang Didiagnosis Membalas
Dalam hitungan minggu setelah pidato Van Loon, Cabang Belanda dari Bond van Indonesische Artsen menerbitkan sebuah pamflet. Judulnya: Verweerschrift. Pembelaan diri. Atau lebih tepatnya: serangan balik.
Pamflet itu diterbitkan anonim — sebuah pilihan yang bukan tanpa alasan. Seorang dokter pribumi yang secara terbuka menentang psikiater kolonial Eropa di tahun 1924 bukan tanpa risiko. Tapi identitas penulis utamanya dikonfirmasi: J.A. Latumeten.
Yang membuat Verweerschrift bukan sekadar protes adalah caranya bekerja. Latumeten tidak menolak sains. Ia menggunakan sains. Ia membongkar premis Van Loon menggunakan metodologi yang persis sama — merujuk literatur neurologi yang sama, mengikuti logika yang sama, tapi menunjukkan ke mana logika itu seharusnya bermuara jika diterapkan secara konsisten.
Jika amok adalah bukti regresi filogenetik, Latumeten bertanya: mengapa tidak ada analisis paralel terhadap perilaku kekerasan kolektif di masyarakat Eropa? Perang parit 1914–1918 baru saja selesai. Jutaan pria Eropa baru saja saling membunuh dalam kondisi yang oleh standar Van Loon sendiri bisa disebut sebagai kehilangan kendali instingtif. Ke mana data itu pergi dalam kerangka van Loon?
Tidak ke mana-mana. Karena kerangka itu sejak awal tidak dirancang untuk melihatnya.
Latumeten juga menyerang sumber primer Van Loon secara langsung. Konsep Henry Head tentang protopathic dan epicritic sensitivity adalah deskripsi tentang kerusakan neurologis pada individu tertentu — bukan tentang karakteristik bawaan suatu ras. Van Loon meminjam istilah itu dan menggunakannya di luar konteks aslinya. Latumeten, yang sedang menyelesaikan disertasi neurologi di Utrecht, tahu persis di mana penyalahgunaan itu terjadi. Dan ia menunjukkannya. (Pols, Hans. 2018)
Satu-satunya dari Dalam
Di sinilah letak keistimewaan Latumeten yang paling jarang disebut.
Psikiatri kolonial Eropa pada dekade 1910–1930-an menghasilkan banyak kritik — tapi hampir seluruhnya datang dari luar. Dari akademisi Eropa yang tidak setuju. Dari jurnalis. Dari aktivis hak sipil. Kritik dari dalam — dari anggota komunitas yang sedang diklasifikasikan — hampir tidak ada. Atau jika ada, tidak cukup terstruktur secara ilmiah untuk menembus perdebatan akademis di jurnal dan ruang-ruang Eropa.
Latumeten adalah pengecualian yang sangat langka. Ia adalah satu-satunya dokter dari komunitas yang didiagnosis yang melakukan counter-argument ilmiah formal pada dekade yang sama — sebuah posisi yang unik bukan hanya dalam sejarah Indonesia, tapi dalam sejarah psikiatri kolonial secara global.
Posisi itu membutuhkan sesuatu yang tidak bisa hanya disebut keberanian. Latumeten perlu memiliki ilmunya lebih kuat dari Van Loon untuk bisa berdiri di medan yang sama. Ia perlu cukup fasih dalam bahasa akademis Eropa untuk memukul balik di arena Eropa. Dan ia perlu cukup sadar tentang di mana dirinya berdiri — sebagai orang Ambon, sebagai dokter bumiputera, sebagai subjek dari teori yang sedang ia bantah — untuk memahami mengapa bantahannya itu penting melampaui dirinya sendiri.
Ia tahu bahwa jika ia tidak bicara, tidak ada yang akan.
Ilmu yang Ia Bawa Pulang
Disertasinya selesai. Over de Kernen van den Nervus Oculomotorius. Penelitian tentang sistem saraf, bukan tentang ras. Tentang anatomi, bukan tentang hierarki evolusioner. Sebuah karya yang, kehadirannya saja, sudah merupakan argumen hidup melawan tesis Van Loon.
Karena jika otak Melayu memang bekerja pada level filogenetik yang lebih rendah — jika amok dan latah memang bukti regresi biologis — bagaimana kita menjelaskan seorang dokter Ambon yang menyelesaikan disertasi neurologi di Utrecht pada tahun yang sama?
Van Loon tidak pernah menjawab pertanyaan itu. Mungkin karena tidak pernah terpikirkan olehnya untuk mengajukannya.
Pameran “Pendar Cahaya” yang digelar Museum Kebangkitan Nasional pada 2022 menjadi salah satu momen langka ketika nama Latumeten kembali disebut — diangkat dari kegelapan arsip ke ruang yang bisa dilihat publik. Tapi di luar momen-momen seperti itu, namanya masih jarang hadir dalam narasi besar sejarah pergerakan nasional. (Museum Kebangkitan Nasional. 2022)
Padahal yang ia lakukan pada 1924 adalah sesuatu yang sangat spesifik dan sangat langka: ia menggunakan alat sang penguasa untuk membuktikan bahwa alat itu cacat. Ia tidak menolak sains. Ia menyelamatkan sains dari penyalahgunaannya.
Dan ia melakukannya seorang diri. Dari Utrecht. Dalam bahasa Belanda. Dengan metodologi yang tidak bisa diabaikan.
Di zamannya, itu bukan sekadar keberanian intelektual. Itu perlawanan yang paling sunyi — dan paling berbahaya — yang bisa dilakukan seorang dokter pribumi di bawah langit koloni.
Referensi:
- Van Loon, F.H. (1924). De Psychische Eigenschappen der Maleische Rassen. Pidato di hadapan Indisch Genootschap, Den Haag. Indische Genooschap
- Latumeten, J.A. (1924). Over de Kernen van den Nervus Oculomotorius. Utrecht: Den Boer. (DISUTR 1924:2). Dikonfirmasi via katalog Universiteitsbibliotheek Leiden. Disertasi Latumeten
- Bond van Indonesische Artsen, Cabang Belanda. (1924). Verweerschrift [pamflet anonim]. Dikonfirmasi kepengarangan utama Latumeten. Balasan Latumeten
- Pols, H. (2018). Nurturing Indonesia: Medicine and Decolonisation in the Dutch East Indies. Cambridge University Press. Nurturing Indonesia
- Museum Kebangkitan Nasional. (2022). Pameran “Pendar Cahaya”: J.A. Latumeten dan Kontribusinya dalam Sejarah Kedokteran Indonesia. Jakarta: Muskitnas.Pameran Pendar Cahaya
- Head, H. (1920). Studies in Neurology. Oxford University Press. [Sumber asli konsep protopathic-instinctive phenomena yang disalahgunakan Van Loon.]
- J.A. Latumeten Psikiatri Pertama Indonesia
