|

GTNI:Jurnal Yang Tidak Boleh Dibaca

Penulis: Indira Galuh
Editor: Cindy Marsitaully

Jurnal Yang Tidak Boleh Dibaca.

Selama puluhan tahun, dokter-dokter bumiputra lulusan STOVIA tidak berhak membaca jurnal ilmiah kedokteran paling bergengsi di Hindia Belanda. Mereka belajar ilmu yang sama, lulus ujian yang sama — tapi gerbang pengetahuan itu tertutup berdasarkan satu kriteria: warna kulit.

Bayangkan kamu baru saja lulus dari sekolah kedokteran. Sembilan tahun pendidikan, anatomi dan patologi dan farmakologi — semua sudah kamu kuasai. Kamu adalah dokter. Tapi ada satu hal yang tidak boleh kamu lakukan: membaca jurnal ilmiah tempat kolega-kolegamu menerbitkan penelitian terbaru mereka.

Bukan karena kamu tidak mampu membacanya. Bukan karena kamu tidak memenuhi syarat akademis. Tapi karena kamu bumiputra.

Itulah kenyataan yang dihadapi para dokter lulusan STOVIA selama puluhan tahun pertama keberadaan sekolah itu. Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië — GTNI, jurnal kedokteran Hindia Belanda yang terbit dari 1852 hingga 1942 dan menjadi publikasi ilmiah paling penting di koloni ini — tertutup bagi mereka. Hanya dokter Eropa yang boleh membaca. Hanya dokter Eropa yang boleh menulis di sana. (Yani, R. 2021) (Pols, H. 2018).

Dua Jurnal, Dua Dunia 

Respons terhadap diskriminasi ini lahir dari dalam STOVIA sendiri. Para pendidik sekolah itu mendirikan jurnal tandingan: Tijdschrift voor Inlandsche Geneeskundigen — TVIG — khusus untuk dokter bumiputra. Memuat penelitian tentang penyakit-penyakit yang paling relevan dengan pasien-pasien yang mereka tangani setiap hari: malaria, kolera, penyakit tropis yang jarang disentuh jurnal Eropa karena tidak relevan dengan tubuh orang Eropa. (Yani, R. 2021) (Hesselink, L. 2011) 

TVIG adalah pencapaian yang luar biasa — bukti bahwa dokter-dokter bumiputra mampu melakukan penelitian ilmiah yang serius. Tapi ia juga adalah cermin yang menyedihkan tentang betapa dalamnya segregasi intelektual di Hindia Belanda: bahwa dibutuhkan jurnal tersendiri bagi bumiputra, bukan karena mereka tidak sanggup berkontribusi di GTNI, tapi karena mereka tidak diberi izin.

Dan TVIG tidak bertahan lama. Karena keterbatasan dana — sumber daya yang tidak pernah setara antara komunitas dokter Eropa dan bumiputra — TVIG berhenti terbit pada 1922. Satu-satunya media ilmiah resmi milik dokter pribumi Hindia Belanda itu tutup. Sementara GTNI terus berjalan hingga 1942. (Yani, R. 2021)

VIG Dan Tuntutan Yang Tidak Bisa Diabaikan

Hilangnya TVIG bukan membuat para dokter bumiputra menyerah — justru sebaliknya. Mereka bersatu dalam Vereeniging van Inlandsche Geneeskundigen (VIG), organisasi dokter bumiputra yang menyuarakan berbagai tuntutan kesetaraan. Salah satu yang paling mendasar: hak untuk mengakses GTNI. (Yani, R. 2021) (Pols, H. 2018)

Argumen VIG sederhana dan tidak terbantahkan: bagaimana seorang dokter bisa menjaga standar ilmiahnya jika ia tidak boleh membaca perkembangan terkini di bidangnya? Perjuangan sejenis juga terlihat dari perlawanan tertulis para dokter bumiputra terhadap teori-teori psikiatri kolonial yang merendahkan kapasitas mental bangsa mereka sendiri — seperti Verweerschrift yang ditulis Bond van Indonesische Artsen sebagai bantahan atas pidato seorang psikiater kolonial tentang “sifat psikis ras Melayu.” (Bond van Indonesische Artsen, Afdeeling Nederland 1924)

Tuntutan itu akhirnya berhasil. Para dokter bumiputra mendapat hak baca GTNI — dan kemudian, hak yang lebih penting lagi: hak untuk menulis di sana. Nama-nama seperti Bahder Djohan dan Johannes Leimena mulai muncul di halaman-halaman GTNI, (Yani, R. 2021) termasuk tulisan bersama C.D. de Langen dan Bahder Djohan tentang pellagra yang terbit di GTNI tahun 1935. (Langen, C.D. de & Bahder Djohan 1935)

Kemenangan itu nyata. Tapi ia datang terlambat, dan dengan biaya yang tidak seharusnya harus dibayar: puluhan tahun pengetahuan yang terisolasi, satu jurnal bumiputra yang terpaksa mati karena tidak cukup uang untuk hidup di samping jurnal yang didukung penuh kekuasaan kolonial.

Kenapa Ini Penting Hari Ini?

 Seluruh arsip GTNI dan TVIG tersedia di Delpher — ini salah satu keistimewaan topik ini untuk siapa pun yang ingin meneliti lebih jauh. Kamu bisa membaca sendiri edisi-edisi TVIG dan merasakan apa yang ada di dalamnya: penelitian tentang penyakit tropis yang paling relevan dengan kehidupan rakyat pribumi, yang tidak dianggap layak hadir di GTNI selama bertahun-tahun.

Dan di GTNI sendiri, ada momen bersejarah yang bisa dicari: kapan pertama kali nama bumiputra muncul sebagai penulis.[^1] Satu nama di antara ratusan halaman yang selama puluhan tahun hanya berisi nama-nama Eropa — itu bukan sekadar data bibliografis. Itu adalah catatan tentang kapan sebuah tembok mulai retak.

Referensi:

  • Yani, R. (2021). Indonesian Authors in Geneeskundige Tijdschrift voor Nederlands Indie as Constructors of Medical Science. Lembaran Sejarah, 16(2), Universitas Gadjah Mada. https://jurnal.ugm.ac.id/lembaran-sejarah/article/view/66955 
  • Hesselink, L. (2011). Healers on the Colonial Market: Native Doctors and Midwives in the Dutch East Indies. Leiden: KITLV Press.
  • Langen, C.D. de & Bahder Djohan (1935). “Pellagra in Nederlandsch-Indië.” Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (GTNI), 75(8): 659–662.
  • Bond van Indonesische Artsen, Afdeeling Nederland (1924). Verweerschrift tegen de Rede van Dr. F.H. van Loon over “De Psychische Eigenschappen der Maleische Rassen”. Amsterdam: Hesse. (dikutip dalam bibliografi Pols, Nurturing Indonesia) https://www.cambridge.org/core/books/abs/nurturing-indonesia/bibliography/CCE402F83593462C0AA06F1D86140E4C 
  • Van Loon, F.H. (1924). De Psychische Eigenschappen der Maleische Rassen. Pidato di hadapan Indisch Genootschap, Den Haag. Indische Genooschap 
  • Latumeten, J.A. (1924). Over de Kernen van den Nervus Oculomotorius. Utrecht: Den Boer. (DISUTR 1924:2). Dikonfirmasi via katalog Universiteitsbibliotheek Leiden. Disertasi Latumeten 
  • Bond van Indonesische Artsen, Cabang Belanda. (1924). Verweerschrift [pamflet anonim]. Dikonfirmasi kepengarangan utama Latumeten. Balasan Latumeten 
  • Pols, H. (2018). Nurturing Indonesia: Medicine and Decolonisation in the Dutch East Indies. Cambridge University Press. Nurturing Indonesia  

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *