SOVIA: Rahim Intelektual bagi Dokter Perempuan Pertama Indonesia
Penulis: Indira Galuh
Editor: Cindy Marsitaully

Tahun 1912 adalah tahun yang riuh bagi pendidikan di Batavia, namun sunyi bagi perempuan. Pintu STOVIA memang sudah terbuka, tapi dengan sebuah ironi: pemerintah kolonial mengizinkan perempuan masuk, namun menolak memberikan mereka tempat tinggal, biaya, atau masa depan di dinas medis resmi. Sejarah sering kali hanya mencatat Aletta Jacobs sebagai sosok yang datang dan menggugat Gubernur Jenderal Idenburg. Namun, ada satu nama yang selama ini berdiri di bayang-bayang saudarinya, seorang perempuan yang tidak hanya bicara, tapi memilih untuk menetap dan bertindak. Ia adalah Charlotte Jacobs.
Kolektif di Balik Meja Teh: Para Penggerak SOVIA.
Charlotte Jacobs menyadari bahwa cita-cita Aletta tidak akan bertahan lama jika hanya dibiarkan menjadi wacana di koran-koran Belanda. Ia butuh sebuah mesin penggerak yang nyata di jantung koloni. Maka, ia mulai merajut sebuah “ekosistem” yang terdiri dari perempuan-perempuan paling berpengaruh di Batavia untuk mendirikan Vereeniging tot Vorming van een Studiefonds voor Opleiding van Vrouwelijke Inlandsche Artsen — atau yang kita kenal sebagai SOVIA.
Di belakang meja-meja rapat yang barangkali masih beraroma teh dan kue-kue sore yang manis, ada sosok Marie C. Kooy-van Zeggelen. Sebagai seorang penulis dan jurnalis yang tajam, ia memegang peran krusial sebagai sekretaris yayasan. Marie bukan sekadar pencatat; ia adalah penyambung lidah. Melalui penanya, kegelisahan tentang minimnya tenaga medis perempuan di Hindia Belanda bertransformasi menjadi narasi yang mendesak, memastikan bahwa gaung SOVIA terdengar hingga ke ruang-ruang publik di Amsterdam dan Den Haag.
Lalu, ada Elisabeth van Deventer, istri dari tokoh legendaris Politik Etis, Conrad Theodor van Deventer. Elisabeth membawa serta idealisme “utang budi” ke dalam organisasi. Baginya, mendukung SOVIA adalah bagian dari tanggung jawab moral untuk memajukan kaum bumiputera. Sementara itu, kehadiran Mevrouw Idenburg, istri dari Gubernur Jenderal yang sedang berkuasa, memberikan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang: perlindungan politik dan legitimasi.
Di tengah birokrasi kolonial yang kaku dan sering kali skeptis terhadap pendidikan perempuan, posisi Mevrouw Idenburg memastikan bahwa langkah SOVIA tidak mudah dijegal oleh tangan-tangan kekuasaan. ( Jenowein, A.M. 2019)
Kekuatan Iuran: Membeli Masa Depan dengan Solidaritas
Namun, kekuatan sejati SOVIA terletak pada kemandiriannya. Alih-alih mengemis subsidi penuh pada pemerintah yang saat itu memberikan syarat sangat berat bagi siswi kedokteran, yayasan ini hidup dari militansi anggotanya. Mereka membangun jaringan filantropi yang rapi; mengumpulkan iuran rutin dari para anggota dan mengetuk pintu para dermawan di Hindia Belanda maupun di Belanda.
Sistem iuran ini adalah bentuk perlawanan diam-diam. Dengan dana yang terkumpul secara mandiri, SOVIA memiliki kuasa penuh untuk menentukan siapa yang layak dibantu tanpa harus tunduk pada kontrol ketat pemerintah. Setiap gulden yang disetorkan oleh istri-istri dokter dan pejabat progresif ini dikonversi menjadi biaya asrama, buku-buku medis, dan tunjangan hidup bagi Marie Thomas. Inilah momen ketika feminisme global tidak sekadar mengetuk pintu kantor Gubernur Jenderal, melainkan membawa kunci dan biaya sendiri untuk membukanya lebar-lebar bagi perempuan Indonesia. ( Hartono, Fernanda Prasky. 2021)
Jaring-Jaring Solidaritas dan Filter Budaya
Menariknya, SOVIA adalah bentuk solidaritas lintas bangsa yang sangat awal. Namun, sejarah tidak pernah benar-benar hitam dan putih. SOVIA memang memberikan jalan bagi Marie Thomas dan kemudian Anna Warouw, namun pilihan tersebut tidak lepas dari filter sosial masa itu. Menariknya, SOVIA adalah bentuk solidaritas lintas bangsa yang sangat awal. Namun, sejarah tidak pernah benar-benar hitam dan putih. SOVIA memang membukakan jalan bagi Marie Thomas dan kemudian Anna Warouw, tetapi kesempatan ini tidak lepas dari hierarki sosial masa itu. Keduanya berasal dari wilayah yang secara tradisi lebih dulu berinteraksi dengan sistem pendidikan formal Barat, menciptakan ‘keselarasan’ budaya yang mempermudah mereka masuk ke dalam standar akademik kolonial dibandingkan perempuan dari wilayah lain di Nusantara. Ini adalah bukti bahwa setiap gerakan, bahkan yang paling mulia sekalipun, selalu bertarung dengan kompleksitas zamannya. (De Erven, F Bohn. 1898)
Warisan yang Melampaui Satu Nama.
Tanpa SOVIA, tahun 1922 mungkin hanya akan mencatat kelulusan dokter laki-laki lainnya di STOVIA. Tanpa yayasan ini, ijazah Marie Thomas tidak akan pernah tercetak. Kita harus menyadari bahwa selembar ijazah tersebut bukan sekadar bukti kecerdasan individu Marie, melainkan sebuah “kuitansi” atas sepuluh tahun ketabahan para anggota SOVIA. Setiap bulan, selama satu dekade, mereka terus menyetorkan iuran tanpa kepastian apakah investasi sosial ini akan membuahkan hasil. Mereka bertaruh pada masa depan yang bahkan belum bisa mereka bayangkan sendiri.
Namun, taruhan itu menang. Kelulusan Marie Thomas menciptakan efek domino yang tak terbendung. Ia menjadi bukti hidup bahwa keraguan pemerintah kolonial adalah kesalahan besar. Keberhasilannya membuka jalan bagi Anna Warouw, dan setelahnya, sebuah gerbong panjang dokter-dokter perempuan Indonesia mulai bergerak masuk ke dalam sejarah. Marie dan Anna adalah ujung tombak, tapi SOVIA adalah tangan yang memegang dan mengarahkan tombak tersebut menembus dinding prasangka.
Hari ini, jika kita menelusuri peta kota Jakarta, kita tidak akan menemukan nama Charlotte Jacobs terukir di papan jalan protokol. Ia tidak memiliki monumen perunggu di tengah taman kota, juga tidak ada ruangan besar di museum yang secara khusus mendedikasikan namanya. Sejarah seringkali melupakan para “bendahara perubahan”—mereka yang bekerja di balik pembukuan, iuran anggota, dan urusan-urusan teknis yang tidak tampak heroik di permukaan.
Tetapi, monumen Charlotte sebenarnya hidup dan bernapas. Ia hadir dalam setiap stetoskop yang dikalungkan di leher dokter perempuan hari ini. Ia ada dalam setiap keping koin iuran yang ia kumpulkan bersama kawan-kawannya; kepingan-kepingan kecil yang secara kolektif berubah menjadi kunci untuk membuka pintu-pintu STOVIA yang sebelumnya terkunci rapat. (Priyambodo, Utomo. 2021)
Charlotte Jacobs dan SOVIA mengajarkan kita satu hal penting: bahwa revolusi tidak selalu dimulai dengan pekikan di jalanan. Kadang, ia dimulai dari ketekunan sekelompok perempuan yang memilih untuk tidak menyerah pada birokrasi, dan memilih untuk membayar harga kemajuan itu dengan tangan mereka sendiri.
Referensi:
- Hesselink, L. (2012). Marie Thomas (1896–1966), de eerste vrouwelijke arts in Nederlands-Indië. JavaPost, Marie Thomas, Dokter Perempuan Pertama Hindia-Belanda
- Annette Wierper. Wilskracht, durf en onverpoosden ijver (Tesis doktoral Terkait Kehidupan Charlotte Jacobs),
- Biografi Singkat Charlotte Jacobs
- Vrouwenlexicon van Nederland. Huygens KNAW. Marie Thomas, 1896-1966.
- ResearchGate: Peran Kelompok Feminis Belanda dalam Pendidikan Dokter Marie Thomas 1912–1922. Peran Kelompok Feminis Dalam Pendidikan Dokter Marie Thomas
- Minahasa, Dulu dan Sekarang
