Marie Thomas: Perempuan Pertama yang Menembus Pintu STOVIA

Penulis: Indira Galuh
Editor: Cindy Marsitaully

Marie Thomas, bersama rekan-rekannya.

26 April 1922. Seorang perempuan berdiri menerima diplomanya di tengah ratusan pria. Surat kabar Belanda menyebutnya “pionier.” Ia dihujani hadiah. Sayangnya, orang-orang lupa betapa sunyinya tahun-tahun awal saat ia menjadi satu-satunya perempuan yang merintis jalan di sana.

Dari Likupang ke Batavia

Marie Emilia Thomas lahir pada 17 Februari 1896 di Likupang, Minahasa. Putri dari Adriaan Thomas — seorang petugas militer kolonial — dan Nicolina Maramis. Karena tugas sang ayah, keluarga mereka kerap berpindah wilayah. Sebuah kehidupan yang tanpa disadari melatih Marie untuk terbiasa dengan ketidakpastian sejak kecil.

Untuk bisa mendaftar ke STOVIA, seseorang harus lulus dari Europeesche Lagere School (ELS). Masalahnya, tidak ada ELS di Likupang. Maka Marie harus merantau ke Manado sejak belia — hanya untuk mengenyam pendidikan dasar yang ia butuhkan. Berdasarkan laporan tahun 1911, hanya siswi pribumi Kristen yang tercatat menempuh pendidikan di ELS Manado. Sebuah petunjuk tentang identitas dan keyakinan Marie yang kelak turut membentuk perjalanan hidupnya. (Hesselink, L. 2012)

Setelah melewati ujian masuk yang kompetitif, Marie berangkat ke Batavia. Perjalanan panjang dari Minahasa ke jantung kekuasaan kolonial itu bukan sekadar perjalanan fisik. Itu lompatan dari satu dunia ke dunia lain. 

Ketika Feminisme Global Mengetuk Pintu Gubernur Jenderal

Diterimanya Marie di STOVIA tidak bisa dilepaskan dari satu nama: Aletta Henriëtte Jacobs.

Aletta adalah dokter perempuan pertama di Belanda, sekaligus tokoh sentral gerakan feminisme Eropa. Antara 1911 hingga 1912, ia melakukan perjalanan keliling dunia selama enam belas bulan bersama rekannya, Carry Chapman Catt — mengevaluasi kondisi sosial dan politik perempuan di berbagai belahan dunia, termasuk Hindia Belanda.

Pada 18 April 1912, Aletta singgah di Batavia dan bertemu langsung dengan Gubernur Jenderal A.W.F. Idenburg. Ia mengajukan satu gugatan sederhana namun berdampak besar: perempuan bumiputra harus diberi kesempatan mengenyam pendidikan kedokteran. Aletta berargumen bahwa keberadaan dokter perempuan adalah kebutuhan mendesak — banyak pasien perempuan yang menolak diperiksa oleh dokter laki-laki, sehingga nyawa mereka terancam hanya karena ketiadaan pilihan.

Usulan itu diterima. Tapi pemerintah kolonial memberi syarat yang berat: pelajar perempuan tidak berhak mendapat fasilitas asrama dari negara, tidak boleh dipekerjakan di Layanan Medis Sipil (BGD), dan harus membiayai seluruh pendidikannya sendiri. (Jacobs, Aletta. Reisbrieven uit Afrika en Azië. 1915 )

Tantangan itu dijawab oleh sekelompok perempuan Eropa di Batavia. Charlotte Jacobs — apoteker perempuan pertama di Hindia Belanda, sekaligus saudari Aletta — bersama rekan-rekannya mendirikan Vereeniging tot Vorming van een Studiefonds voor Opleiding van Vrouwelijke Inlandsche Artsen (SOVIA). Sebuah yayasan dana pendidikan khusus untuk calon dokter perempuan pribumi. (De Wilde, Inge. Huygens ING. 2021) 

Dengan beasiswa dari SOVIA itulah, Marie Thomas melangkah masuk ke STOVIA pada September 1912.

Bukan Murid yang Menonjol — Lalu Membuktikan Sebaliknya

Masa-masa awal Marie di STOVIA tidak semulus yang dibayangkan.

Catatan sekolah menunjukkan bahwa progres belajarnya sempat dianggap kurang memuaskan. Dalam bahasa laporan resmi Belanda saat itu: vorderingen vroeger wel eens wat te wenschen lieten — dulu, kemajuannya masih jauh dari kata sempurna.

Tapi Marie tidak menyerah.

Ia memperbaiki cara belajarnya, dan perlahan namanya bergeser dalam catatan sekolah: behoort thans tot de goede leerlingen harer klasse — ia kini termasuk murid yang berprestasi di kelasnya.

Karena asrama STOVIA hanya diperuntukkan bagi siswa laki-laki, Marie harus mengatur tempat tinggalnya sendiri. Ia tinggal di Pension Vrouwenbond di kawasan Weltevreden, Batavia, di bawah pengawasan Ny. Creutzberg. Di sana ia berbagi keseharian dengan Anna Warouw — siswi perempuan kedua yang diterima dua tahun setelahnya — serta dua calon bidan asal Melayu bernama Emma dan Ramah. (Vrouwenraad Van Nederlandsche-Indie. 1920)

Empat perempuan di tengah ratusan laki-laki. Bagi mereka, kelulusan adalah pembuktian; bagi mahasiswa pria, kelulusan adalah kewajiban.

Bersama-sama, keempatnya berhasil naik ke tingkat kelas yang lebih tinggi secara bersamaan. Diam-diam mematahkan keraguan banyak pihak tentang kemampuan intelektual perempuan.

Lulus, Dihujani Hadiah, dan Disebut “Pionier

Pada 26 April 1922, setelah sepuluh tahun menempuh pendidikan, Marie E. Thomas menerima diplomanya. Ia resmi menjadi perempuan pertama yang lulus dari STOVIA.

Rotterdamsche Nieuwsblad mengabadikan momennya — Marie disebut sebagai “pionier.” Ia dihormati dan dihujani hadiah. Sebuah pengakuan atas pencapaian luar biasa, sekaligus cermin betapa terisolasinya posisi yang ia tempati selama satu dekade. (BS, Firdaus. RRI. 2026)

Setelah lulus, Marie bergabung dengan Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ) — rumah sakit terbesar di Batavia, kini dikenal sebagai RSCM. Di sana ia bekerja di bawah bimbingan Nicolaas J.A.F. Boerma, pengajar pertama bidang obstetri dan ginekologi di STOVIA. Dari sinilah Marie menemukan spesialisasinya: kebidanan dan kandungan. Ia kelak diakui sebagai spesialis ginekologi dan obstetri pertama di Indonesia. (Hesselink, Liesbeth. 2012)

Cinta yang Menunggu Sepuluh Tahun

Di luar ruang praktik dan laboratorium, Marie menyimpan sebuah cerita yang lebih sunyi.

Mohammad Joesoef adalah teman seangkatannya di STOVIA — seorang pemuda Muslim asal Minangkabau, Solok. Kedekatan mereka tumbuh pelan-pelan di antara diskusi pelajaran dan tugas-tugas geometri yang rumit. Tapi menyatukan dua hati dengan latar belakang yang sejauh itu — Marie, perempuan Kristen dari Minahasa; Joesoef, laki-laki Muslim dari Minangkabau — Marie dari utara dan Joesoef dari barat; bagi mereka, mencintai berarti meniti jembatan rapuh di antara dua doa dan dua adat yang enggan saling bersentuhan.

Mereka baru menikah pada 16 Maret 1929. Saat Marie berusia 33 tahun.

Usia yang matang, bahkan untuk ukuran zaman sekarang. Apalagi di eranya.

Pernikahan itu pun tidak selalu mulus. Di awal 1930-an, Joesoef mengalami kebangkrutan dalam praktik swastanya dan sempat ditahan di Penjara Struiswijk. Di titik paling kelam itu, Marie tidak pergi. Ia tetap berdiri — sebagai istri, sebagai rekan, sebagai tumpuan. (Hesselink, Liesbeth. 2012)

Peneliti yang Menulis Sendiri

Dedikasi Marie tidak berhenti di bangsal rumah sakit.

Pada tahun 1925, ia menerbitkan artikel ilmiah berjudul “De suspensiestabiliteit van het bloed in de tropen” — Kestabilan Suspensi Darah di Kawasan Tropis — dalam jurnal Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (GTNI), Volume 65.

Yang membuatnya istimewa: Marie menulis artikel itu seorang diri. Tanpa rekan penulis. Tanpa nama laki-laki di sampingnya. Sebuah pencapaian yang menembus batas pada zamannya. Di tengah dominasi praktisi medis pria Eropa, itu adalah pernyataan intelektual yang lantang — meski disampaikan dalam bahasa sains yang dingin.

Menggunakan metode Laju Endap Darah (LED), Marie menganalisis stabilitas sel darah merah pada penduduk di iklim tropis. Ia menyimpulkan bahwa nilainya konsisten dengan standar internasional, selama subjek berada dalam kondisi kesehatan optimal. Temuan ini ia terapkan langsung dalam praktik klinisnya: lewat tes darah sederhana (LED), dokter bisa mendeteksi tanda-tanda infeksi pada ibu baru secara lebih cepat, sehingga pengobatan bisa diberikan tanpa harus menunggu ibu jatuh sakit

Di zamannya, itu bukan sekadar penelitian. Itu inovasi diagnostik yang nyata, yang dilakukan oleh seorang perempuan.

Dokter yang Pintunya Tidak Pernah Tertutup

Setelah menikah, Marie mengikuti suaminya bertugas di Padang, lalu ke Fort de Kock — kota yang kini dikenal sebagai Bukittinggi. Di sana jiwanya sebagai pengabdi kesehatan masyarakat semakin mengakar. Bersama asistennya, ia kerap keluar-masuk kampung melayani masyarakat miskin yang tak mampu membayar. Ia juga menjadi pelopor penggunaan IUD sebagai metode pengendalian kelahiran.

Sekitar tahun 1950, Marie mendirikan sekolah kebidanan di Bukittinggi — yang pertama di Sumatra dan kedua di Indonesia. Di sana ia menanamkan nilai disiplin dan kebersihan yang ketat kepada para muridnya. (Priyambodo, Utomo. 2021)

Ketika pemberontakan PRRI pecah di Minangkabau sekitar 1958, Marie dan suaminya menjadi satu-satunya dokter yang bertahan di rumah sakit. Rekan-rekan mereka pergi berperang. Keduanya mengambil alih manajemen rumah sakit agar pelayanan tidak berhenti.

Tidak ada catatan tentang keberatan. Tidak ada catatan tentang kepanikan. Hanya catatan bahwa mereka tetap bertahan.

Warisan yang Lebih Besar dari Namanya

Marie E. Thomas wafat pada tahun 1966, akibat pendarahan otak, di usia 70 tahun.

Di Indonesia modern, namanya mulai memudar. Sekolah kebidanan yang ia dirikan tidak lagi menyandang namanya. Namun mereka yang mengenalnya mencatat satu hal yang konsisten sepanjang hidupnya: pintu rumahnya tidak pernah tertutup — bagi keluarga jauh, bagi pasien tak mampu, bagi siapa pun yang datang membutuhkan.

Marie tidak berjuang untuk dikenang. Ia berjuang karena tidak ada pilihan lain yang bisa ia terima dengan hati nurani yang tenang.

Dan itu, barangkali, adalah bentuk keberanian yang paling tulus yang dilakukan seorang Dokter perempuan bernama Marie Thomas— yang tidak butuh nama jalan, tidak butuh plakat, tidak butuh surat kabar yang menyebutnya “pionier” untuk tetap nyata bekasnya.

Referensi:

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *