Aletta Jacobs: Perempuan yang Datang, Bertanya, dan Mengubah Segalanya

Penulis: Indira Galuh
Editor: Cindy Marsitaully

Aletta Jacobs di meja kerjanya.

18 April 1912. Seorang perempuan Belanda turun dari kapal di Batavia.

Ia bukan pejabat. Bukan pula istri pejabat. Ia adalah dokter — dokter perempuan pertama di Belanda — dan ia datang dengan satu pertanyaan yang sederhana namun berbahaya: mengapa tidak ada dokter perempuan Bumiputera di sini?

Enam bulan setelah pertemuan itu, Marie Thomas melangkah masuk ke STOVIA. Dan itu bukan sebuah kebetulan.

Dokter Perempuan Pertama yang Tidak Minta Izin

Aletta Henriëtte Jacobs lahir pada 9 Februari 1854 di Sappemeer, Belanda. Putri dari seorang dokter yang tidak biasa — Abraham Jacobs meyakini bahwa pendidikan adalah hak semua anaknya, termasuk perempuan. Di era ketika perempuan Belanda bahkan tidak punya hak memilih, itu bukan keyakinan yang mudah untuk dipegang.

Aletta tumbuh dengan keyakinan itu menancap dalam.

Pada 1871, ia menulis surat langsung kepada Johan Rudolf Thorbecke, Perdana Menteri Belanda saat itu, meminta izin untuk mengikuti kuliah kedokteran di Universitas Groningen. Thorbecke mengizinkan — dengan syarat percobaan satu tahun. Aletta tidak hanya lulus percobaan itu. Ia menyelesaikan seluruh program studi dan meraih gelar dokter pada 1879. (Weda, Reem. EUROPEANA)

Perempuan pertama yang melakukannya di Belanda. Tapi Aletta tidak berhenti di sana. Ia tidak pernah berhenti. Itu semua belum cukup.

Dokter yang Juga Pejuang

Di Amsterdam, Aletta membuka praktik khusus untuk perempuan dan anak-anak — terutama dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar dokter. Dari sana ia menyaksikan langsung bagaimana tubuh perempuan menjadi medan perang yang tidak pernah mereka pilih: kehamilan yang tak diinginkan, persalinan yang berbahaya, tubuh yang dihabiskan oleh terlalu banyak anak dalam terlalu sedikit waktu.

Ia menjadi salah satu dokter pertama di dunia yang secara terbuka mendukung kontrasepsi dan mempraktikkan keluarga berencana. Sesuatu yang di zamannya bukan hanya kontroversial — tapi dianggap tidak bermoral.

Aletta tidak peduli.

Ia juga aktif dalam gerakan hak pilih perempuan. Pada 1883, ia mendatangi kantor pemilihan di Amsterdam dan mencoba mendaftarkan diri sebagai pemilih — berdasarkan argumen bahwa undang-undang tidak secara eksplisit melarang perempuan. Permohonannya ditolak. Tapi tindakan itu memicu perdebatan nasional yang tidak bisa dibungkam lagi. (Nwanazia, Chuka. 2024)

Saat itu, Aletta yang memiliki perspektif baru setelah membaca pamflet yang ditulis oleh Perdana Menteri saat itu, Bapak J. Heemskerk Azn., ayah dari Menteri Kehakiman saat itu (1923). Beliau berpendapat bahwa, berdasarkan konstitusi yang berlaku saat itu, perempuan sebenarnya tidak dikecualikan dari hak untuk memilih. Aletta berpikir bahwa ‘Jika hukum tidak mencegah kita untuk menggunakan hak pilih,’ pikir saya, ‘mengapa kita tidak menggunakan hak itu?’

Pada 1883, ia mendatangi kantor pemilihan di Amsterdam dan mencoba mendaftarkan diri sebagai pemilih. Argumennya didasarkan pada Pasal 76 Konstitusi 1848 (Grondwet 1848) yang menyatakan bahwa hak pilih diberikan kepada “penduduk” (ingezetenen) yang membayar pajak dalam jumlah tertentu. Karena ia adalah dokter yang membayar pajak dan undang-undang tersebut tidak secara eksplisit menggunakan kata “laki-laki”, Jacobs berargumen bahwa ia secara sah memiliki hak pilih. (Jacobs, Aletta. 1924)

Belanda akhirnya memberikan hak pilih kepada perempuan pada 1919. Aletta adalah salah satu perempuan pertama yang menggunakannya.

Keliling Dunia dengan Satu Pertanyaan

Antara 1911 dan 1912, Aletta melakukan perjalanan keliling dunia selama enam belas bulan bersama sahabatnya, Carry Chapman Catt — seorang pendidik dan wartawati yang tajam dalam memperjuangkan hak perempuan dari Amerika Serikat. Tujuannya bukan wisata. Tujuannya adalah mengevaluasi kondisi sosial dan politik perempuan di berbagai belahan dunia: Mesir, India, Afrika Selatan, Jepang, Tiongkok, Filipina — dan Hindia Belanda.

Di setiap tempat, Aletta membawa pertanyaan yang sama: apa yang dilakukan pemerintah untuk perempuan di sini?

Jawabannya, hampir selalu, mengecewakan.

Pada 18 April 1912, Aletta tiba di Batavia. Ia bertemu dengan Gubernur Jenderal A.W.F. Idenburg — penguasa tertinggi Hindia Belanda saat itu. Dan di hadapan pejabat paling berkuasa di koloni ini, Aletta mengajukan gugatan yang terdengar sederhana namun berdampak besar: perempuan bumiputra harus diberi akses ke pendidikan kedokteran.

Aletta berargumen bahwa keberadaan dokter perempuan bukan kemewahan — itu kebutuhan. Banyak pasien perempuan yang menolak diperiksa oleh dokter laki-laki karena adat dan rasa malu. Nyawa mereka terancam bukan karena penyakit yang tidak bisa diobati, tapi karena tidak ada dokter yang bisa mereka percaya untuk memeriksanya. (Jacobs, Aletta. 1913)

Idenburg menyetujui prinsipnya. Tapi seperti biasa, pemerintah kolonial menyetujui dengan syarat yang dirancang untuk mempersulit: pelajar perempuan tidak berhak atas fasilitas asrama negara, tidak boleh bekerja di Layanan Medis Sipil, dan harus membiayai sendiri seluruh pendidikannya.

Aletta tidak menyerah di sana.

Saudari yang Mendirikan Dana

Yang sering terlupakan dari kisah Marie Thomas adalah peran Charlotte Jacobs — saudari Aletta yang tinggal di Batavia dan bekerja sebagai apoteker perempuan pertama di Hindia Belanda.

Ketika Aletta pergi setelah pertemuannya dengan Idenburg, Charlotte yang tinggal. Charlotte yang bersama kelompok perempuan Eropa di Batavia mendirikan Vereeniging tot Vorming van een Studiefonds voor Opleiding van Vrouwelijke Inlandsche Artsen — SOVIA. Yayasan dana pendidikan khusus untuk calon dokter perempuan Bumiputera.  (Hartono, Fernanda Prasky. 2021)

Tanpa SOVIA, tidak ada yang menanggung biaya pendidikan Marie Thomas. Tanpa Marie Thomas, tidak ada Anna Warouw. Tanpa keduanya, sejarah kedokteran Indonesia berjalan di jalur yang berbeda.

Semuanya bermula dari dua saudari Jacobs — satu yang datang dan bicara, satu yang tinggal dan bertindak.

Warisan yang Melampaui Namanya

Aletta Jacobs kembali ke Belanda dan terus berjuang hingga akhir hidupnya. Ia meninggal pada 10 Agustus 1929 — sepuluh tahun setelah perempuan Belanda akhirnya mendapat hak pilih yang ia perjuangkan selama puluhan tahun.

Di Indonesia, namanya hampir tidak dikenal. Seorang Belanda yang namanya tak pernah disebut dalam buku sekolah. Padahal tanpa pertemuan empat puluh lima menit di kantor Gubernur Jenderal pada April 1912 itu, pintu STOVIA mungkin tidak pernah terbuka bagi Marie Thomas.

Sejarah sering bekerja seperti itu — perubahan terbesar kadang dimulai dari satu perempuan yang berani datang dan bertanya.

Aletta Jacobs adalah perempuan itu.

Referensi:

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *