Anna Warouw: Dokter Perempuan Kedua yang Memilih Pulang
Penulis: Indira Galuh
Editor: Cindy Marsitaully

Malam di Batavia tidak pernah ramah bagi perempuan yang berjalan sendirian. Tapi Anna Warouw tidak pernah berjalan sendirian. Di tasnya, selalu ada tulang paha manusia.
Bukan untuk menakuti — bukan hanya untuk menakuti. Tulang itu adalah alat peraganya, dibawa pulang dari kelas anatomi untuk dipelajari di bawah lampu redup. Bahwa benda yang sama ternyata efektif mengusir siapa pun yang berniat jahat di jalanan gelap — itu hanya bonus.
Anna Adeline Warouw adalah mahasiswi kedokteran. Dan di STOVIA tahun 1914, itu berarti ia adalah satu dari dua perempuan di sekolah tersebut.
Amurang, 23 Februari 1898.
Tidak ada yang istimewa dari kota kecil di pesisir Sulawesi Utara itu — kecuali bahwa di sana, pada hari itu, lahir seorang perempuan yang kelak akan berdiri di koridor Universitas Leiden dengan stetoskop di lehernya.
Tapi itu masih jauh. Untuk saat ini, Anna Adeline Warouw adalah putri seorang guru.
Marga Warouw di Minahasa sudah lama dihormati sebagai keluarga terpelajar. Berbeda dari ayah Marie Thomas yang memperoleh posisinya lewat dinas militer kolonial, ayah Anna adalah seorang guru — pembawa kemajuan di mata masyarakat pribumi. Bukan seragam yang memberinya wibawa, melainkan ilmu. Dan di Minahasa awal abad ke-20, itu bukan posisi yang kecil. Status guru menempatkan keluarga Warouw cukup terpandang, baik di mata sesama pribumi maupun di hadapan pemerintah kolonial.
Dari posisi itulah ayah Anna membangun satu keyakinan yang tidak lazim untuk zamannya: semua anaknya harus mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Tanpa memandang gender.
Tapi ia juga seorang ayah yang protektif.
Ketika Anna lulus sekolah dasar dan bermimpi melanjutkan pendidikan ke Batavia, sang ayah tidak mengizinkan. Bukan karena ia tidak percaya pada kemampuan putrinya — tapi karena Batavia terlalu jauh, dan Anna terlalu muda untuk pergi sendirian. Maka Anna menunggu. Dua tahun, sabar, sampai adik laki-lakinya Semuel Jusof Warouw selesai sekolah dan siap berangkat bersama. (Nurdina, Zulfa.2019)
Dua tahun adalah waktu yang lama untuk seseorang yang sudah tahu ke mana ia ingin pergi.
Tapi Anna menunggu. Dan itu, barangkali, adalah hal pertama yang perlu diketahui tentang dirinya: ia tahu kapan harus bersabar, dan kapan harus bergerak.
De Tweeling
Pada 1914, dua tahun setelah Marie Thomas mengukir sejarah sebagai perempuan pertama yang melangkah masuk STOVIA, Anna Adeline Warouw menyusul.
Ia datang bersama adiknya, Semuel. Kakak perempuannya memilih jalur lain — keperawatan. Keluarga Warouw, dalam satu generasi, mengirim tiga anaknya ke tiga jalur pengabdian yang berbeda. Itu bukan kebetulan. Itu visi.
Di STOVIA, Anna adalah minoritas — perempuan. Tapi ia bukan satu-satunya lagi. Marie Thomas sudah ada dua tahun lebih dulu, dan kehadiran Anna mengubah sesuatu yang sebelumnya terasa seperti anomali menjadi sebuah pola. Dua gadis Minahasa di tengah ratusan siswa laki-laki, menjalani hari-hari yang tidak pernah dirancang untuk mereka. (Hesselink, L. 2012)
Para siswa laki-laki STOVIA dikenal sangat melindungi keduanya. Tapi Anna bukan gadis yang butuh perlindungan — setidaknya bukan dalam pengertian yang biasanya dimaksud.
Di tasnya, selalu ada tulang paha manusia.
Dibawa pulang dari kelas anatomi untuk dipelajari. Bahwa benda yang sama ternyata efektif mengusir siapa pun yang berniat jahat di jalanan Batavia yang gelap — itu hanya bonus. Anna tidak pernah menjelaskan logikanya pada siapa pun. Tidak perlu. (Nurdina, Zulfa. 2019)
Kedekatan Anna dan Marie tumbuh pelan-pelan di antara jadwal kuliah yang padat dan tekanan pembuktian yang tidak pernah diminta dari rekan-rekan pria mereka. Lama-kelamaan, para siswa STOVIA punya sebutan untuk mereka berdua: de Tweeling.
Si Kembar.
Bukan karena mereka mirip — Marie dan Anna punya karakter yang berbeda. Tapi karena di mata semua orang, keduanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Dua perempuan Minahasa yang datang dari kota berbeda, dengan latar belakang keluarga yang berbeda, tapi berdiri di tempat yang sama karena alasan yang sama.
Mereka ingin menjadi dokter. Dan tidak ada yang akan menghalangi itu.
Bersama dua calon bidan asal Melayu bernama Emma dan Ramah, Anna dan Marie berhasil naik ke tingkat kelas yang lebih tinggi secara bersamaan — diam-diam mematahkan keraguan yang tidak pernah diucapkan tapi selalu terasa di udara. (Vrouwenraad Van Nederlandsche-Indie. 1920)
Pada 23 Agustus 1924, Anna Adeline Warouw menerima gelarnya sebagai Indisch Arts.
Sepuluh tahun setelah pertama kali menginjakkan kaki di Batavia, ia pulang ke titik yang sama dengan tangan berbeda — bukan lagi tangan gadis yang membawa tulang paha di tasnya, tapi tangan seorang dokter. (Priyambodo, Utomo. 2021)
Misi ke Leiden
Jean Eduard Karamoy bukan orang asing bagi Anna.
Mereka bertemu di STOVIA — teman sejawat, sesama Minahasa, sesama dokter muda yang baru saja memulai hidupnya. Pernikahan mereka setelah lulus terasa seperti kelanjutan yang wajar dari sesuatu yang sudah lama tumbuh di antara bangku kuliah dan jadwal praktik yang padat.
Ketika Jean Eduard mendapat kesempatan memperdalam ilmu di Belanda, Anna ikut.
Tapi jangan salah baca kalimat itu.
Anna tidak ikut sebagai istri yang mendampingi. Ia ikut sebagai dokter yang punya agenda sendiri. Di Universitas Leiden — salah satu institusi medis paling bergengsi di dunia — Anna mendaftarkan diri untuk mengambil spesialisasi Otorinolaringologi. THT. Telinga, hidung, tenggorokan. (Karamoy, Lalisang Louise. 2019)
Pilihan yang tidak lazim. Bahkan untuk ukuran dokter laki-laki Eropa sekalipun.
Di Leiden, Anna menyeimbangkan tiga peran sekaligus: istri, mahasiswa pascasarjana, dan ibu muda. Karena di antara dinginnya udara Eropa dan tuntutan akademik yang tidak mengenal kompromi, Anna juga melahirkan dan membesarkan dua anaknya — Alex Karamoy, yang kelak menjadi petenis legendaris Indonesia, dan dr. Marie Louise Lalisang Karamoy, yang meneruskan jejak medis kedua orang tuanya.
Tidak ada catatan yang merekam bagaimana tepatnya Anna mengatur semua itu. Tapi hasilnya ada — ia kembali ke Indonesia dengan gelar spesialis di tangannya.
Sekembalinya dari Belanda, Anna telah bertransformasi menjadi salah satu spesialis THT perempuan pertama di Indonesia. Dari gadis Amurang yang dua tahun menunggu adiknya selesai sekolah, menjadi dokter spesialis yang membawa pulang ilmu dari Eropa.
Ayahnya yang dulu tidak mengizinkan ia pergi sendirian ke Batavia — tidak perlu diragukan lagi, ia pasti bangga.
Tetap Ada di Tengah Kecamuk
Indonesia di bawah pendudukan Jepang bukan tempat yang ramah bagi siapa pun — apalagi bagi seorang dokter perempuan yang harus tetap bekerja di tengah tekanan militer yang tidak mengenal kata istirahat.
Anna bertugas di RS Dr. Kariadi Semarang — dahulu dikenal sebagai CBZ — bahu-membahu dengan dr. Sardjito, salah satu tokoh besar dunia kedokteran Indonesia. Di sana, di bawah bayang-bayang kekuasaan Jepang, Anna tidak berhenti. Pasien tetap harus dilayani. Penyakit tidak menunggu perang selesai. (Karamoy, Lalisang Louise. 2019)
Sebelum masa pendudukan, Anna sudah mengabdikan keahliannya di berbagai wilayah — dari Batavia hingga Payakumbuh di Sumatra Barat. Spesialisasi THT-nya membawanya ke pelosok-pelosok yang jarang dijamah dokter spesialis, melayani masyarakat yang tidak pernah membayangkan bisa dirawat oleh dokter perempuan dengan gelar dari Leiden.
Bagi Anna, gelar bukan mahkota yang dipajang. Ia adalah alat, dan alat harus digunakan.
Pulang ke Akar
Setelah Indonesia merdeka, banyak dokter seangkatan Anna memilih menetap di kota-kota besar — Jakarta, Surabaya, Bandung. Kota-kota dengan rumah sakit besar, fasilitas lengkap, dan nama yang mudah dikenal.
Anna memilih Manado.
Ia kembali ke Sulawesi Utara dan menjadi pengajar perintis di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi — UNSRAT. Di sana ia tidak hanya mengajar ilmu kedokteran, tapi juga mewariskan sesuatu yang lebih sulit diukur: teladan bahwa perempuan bisa berdiri di depan kelas, bukan hanya di belakang pasien.
Pilihan untuk pulang itu bukan tanpa makna. Anna lahir di Amurang, tumbuh di Minahasa, dan memilih mengabdi di tanah yang melahirkannya. Di saat dunia membuka berbagai pintu untuknya — Leiden, Jakarta, karier yang bisa membawanya ke mana saja — ia memilih untuk menutup lingkaran.
Beberapa orang pergi jauh untuk menemukan dirinya. Anna pergi jauh untuk tahu ke mana ia harus pulang.
3 Oktober 1979
Anna Adeline Warouw wafat pada 3 Oktober 1979 di Manado. Usianya delapan puluh satu tahun.
Putrinya, dr. Marie Louise Lalisang Karamoy, mewarisi bukan hanya profesinya tapi juga caranya memandang dunia — bahwa ilmu adalah tanggung jawab, bukan privilege. Putranya, Alex Karamoy, mewarisi sesuatu yang berbeda tapi sama kuatnya: ketangguhan untuk berdiri di lapangan dan tidak menyerah.
Nama Anna Warouw tidak sepopuler nama-nama besar dalam sejarah pergerakan nasional. Tidak ada jalan raya yang menyandang namanya, tidak ada sekolah yang dibangun atas namanya. Tapi di Minahasa, di koridor FK UNSRAT, di antara dokter-dokter spesialis perempuan Indonesia yang hari ini bisa berdiri tanpa harus membuktikan hak mereka untuk ada — jejak Anna tertanam diam-diam.
De Tweeling.
Si Kembar yang datang dari Minahasa, membelah dua dunia yang sebelumnya hanya milik laki-laki, lalu pulang ke tanah yang melahirkan mereka.
Marie ke Bukittinggi. Anna ke Manado.
Keduanya tidak pernah berhenti.
Referensi:
- Wawancara dengan dr. Marie Louise Lalisang Karamoy, putri Anna Warouw, 28 Agustus 2019 Wawancara Dengan Putri Anna Warouw
- Nurturing Indonesia. Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia
- Hesselink, L. (2012). Marie Thomas (1896–1966) Java Post, Marie Thomas, Dokter Perempuan Pertama Hindia-Belanda
- Direktorat Jenderal Kebudayaan. (2019). Dedikasi Seorang Dokter Perempuan: Anna Warouw. Museum Kebangkitan Nasional Anna Warouw, MUSKITNAS
- Marie & Anna, Si Kembar STOVIA
